Follow Us

Follow kami di Twitter untuk mendapatkan Update dan informasi terbaru seputar SIMULTAN 2012

Find Us On Facebook

Like Fanpage kami untuk mendapatkan informasi terbaru SIMULTAN 2012

Tampilkan postingan dengan label UGM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UGM. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Januari 2012

Surat Untuk Anda yang Mau Berjuang


Assalamualaikum. Bismillah…
Bayangkan bila ada forum beranggotakan ribuan mahasiswa UGM yang tersebar di seluruh wilayah nusantara. Bayangkan bila forum ini bebas dari kepentingan pribadi, politik, bisnis, dan kepentingan pihak tertentu. Bayangkan bila forum ini fokus bergerak di bidang pendidikan, berusaha memajukan pendidikan di daerah asal di seluruh nusantara. Satu suara satu aksi dan satu tujuan. Bayangkanlah yang akan terjadi kepada bangsa ini. Bukankah ini luar biasa?
Saya adalah seorang pemimpi, membayangkan ada sebuah forum di UGM yang bernama Lingkar Mahasiswa Gadjah Mada (LMGM). Forum ini mengakomodasi perkumpulan-perkumpulan mahasiswa di setiap daerah untuk bersatu dan bergerak bersama. Sudah banyak perkumpulan mahasiswa daerah di UGM seperti Hipotesa (Tegal), IMAGE (Magelang), FORMAGAMA  dan perkumpulan daerah lainnya. Namun satu sama lain saling terpisah dan bergerak sendiri-sendiri. Dengan adanya forum ini, maka akan ada gerakan yang serempak satu suara dan satu tujuan. Sehingga pergerakan perbaikan pendidikan daerah ini menjadi lebih efektif dan lebih efisien.
Forum ini bernama Lingkar Mahasiswa Gadjah Mada karena fokus awal tujuan adalah untuk menyatukan pergerakan kedaerahan di UGM. Setelah seluruh daerah di nusantara bergabung, tidak menutup kemungkinan akan bekerja sama dan bergabung dengan gerakan serupa di universitas lain seperti ITB, UI, UNS dan UNDIP. Saya sendiri melihat ada cikal bakal dan potensi universitas-universitas tersebut seperti di UGM.
Mungkin dari Anda yang membaca akan timbul pertanyaan, “ngapain mahasiswa capek-capek ngurus pendidikan? Udah pinter? Kuliah aja belum kelar”. Menjawab pertanyaan ini, saya tidak akan banyak mendebat. Karena memang gerakan ini hanya untuk anda yang mau berjuang memajukan bangsa ini. Sebagai mahasiswa kita memang tidak bisa berbuat banyak, tapi bukan berarti kita tidak bisa berkontribusi. Ini adalah bentuk karya nyata kita untuk bangsa ini, dan untuk berkontribusi tidak perlu nunggu tua, tidak perlu nunggu nyalon jadi anggota dewan trus pake slogan “bali deso mbangun deso (pulang ke desa membangun desa)”. Bangunlah daerah kita sendiri mulai dari sekarang mulai dari apa yang bisa kita lakukan. Mahasiswa tidak boleh hanya sekedar ngomong ngalor ngidul ga jelas. Tapi  berkaryalah!
Cikal bakal dari LMGM ini sudah ada di UGM. 18 daerah (Magelang, Bontang, Indramayu, Purworejo, Jombang, Tasikmalaya, Semarang,  Pemalang, Blora, Solo, Jember, Majalengka, Cirebon, Kediri, Demak, Madiun, Bogor, Bojonegoro) telah bergabung dalam suatu kepanitian bernama SIMULTAN 2012. Kepanitian ini mengadakan simulasi snmptn, expo universitas dan sosialisasi ke banyak SMA di daerah masing-masing. Tujuannya untuk memfasilitasi adik-adik SMA yang mau melanjutkan ke perguruan tinggi agar mereka mengenal dunia perkuliahan lebih dini dan lebih siap menghadapi SNMPTN. Memang saat ini jangkauan kami baru adik-adik SMA yang kelas 3 karena  yang bisa kami lakukan baru sebatas ini. Tapi ke depan ketika semua daerah di nusantara telah bergabung, bukannya tak mungkin untuk membuat gebrakan yang sensasional. Bisa saja forum ini bekerja sama dengan BEM KM UGM sehingga Gadjah Mada mengajar tidak hanya di daerah Yogyakarta namun dapat menjangkau seluruh nusantara. Bisa saja bekerja sama dengan pak Annis Baswedan untuk mengadakan Indonesia mengajar versi mahasiswa ataupun program lainnya yang lebih menggebrak. Terdapat potensi besar yang belum tergali dalam gerakan ini.
Ini adalah cita-cita luhur dan mimpi yang besar untuk bangsa ini. Ingin rasanya mengikuti patih Gadjah Mada mengambil sumpah Palapa untuk menyatukan nusantara. Namun saya sadar bahwa gagasan ini tidak dapat terealisasikan hanya dalam waktu 1-2 tahun saja. Butuh bertahun-tahun untuk dapat mengokohkan pergerakan ini. Saya sendiri juga tidak mau menjadi mahasiswa abadi di UGM (cukup 4 tahun saja), untuk itu saya juga menitipkan cita-cita ini kepada teman-teman dan adik-adik saya. Kalau perlu ambil dan realisasikan gagasan ini secepatnya. Gerakan ini mungkin dapat dicetuskan oleh satu orang, tapi butuh kontribusi dari semua pihak agar dapat terealisasikan. Bila ada dari anda yang telah mendahului merealisasikannya saya malah sangat senang.
Saya mengundang teman-teman dan perkumpulan-perkumpulan mahasiswa daerah lainnya untuk bergabung merealisasikan gagasan ini. Namun perlu diketahui sebelumnya, ini hanya untuk Anda yang benar-benar ingin mengabdi dan mau berjuang. Lepas dari semua kepentingan dan ego pribadi. Karena perjuangan itu memang tidak pernah enak, perjuangan itu pengorbanan, tapi perjuangan Anda tidak akan pernah sia-sia. Karena setiap kontribusi anda sangat berarti untuk negeri.
Salam untuk Indonesia yang lebih baik!!

Pokok e tetep semangat, tetep maknyus…

Rabu, 14 Desember 2011

UGM Berikan Gelar Doktor HC kepada Sri Sultan HB X dan Anugerah HB IX Award kepada Goenawan Mohammad

UGM Berikan Gelar Doktor Honoris Causa Sri Sultan HB X dan Anugerah HB IX Award pada Goenawan MohammadYOGYAKARTA - Universitas Gadjah Mada akan menyerahkan gelar doktor honoris causa bidang kemanusiaan kepada Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Anugerah HB IX bidang kebudayaan kepada Goenawan Mohamad. Rencananya, pemberian gelar doktor HC dan Anugerah HB IX dilaksanakan bersamaan pada puncak Peringatan Dies Natalis ke-62 UGM yang jatuh pada hari Senin (19/12).
Kepala Bidang Humas dan Keprotokolan (HMK) UGM Suryo Baskoro mengatakan pemberian gelar doktor HC bidang kemanusiaan pada Sri Sultan HB X telah mulai diusulkan sejak tiga tahun yang lalu dan didasarkan atas banyak pertimbangan, antara lain, pertama, ketokohan Sri Sultan HB X yang memiliki wawasan kebudayaan yang bermanfaat bagi kemanusiaan, pembangunan berkelanjutan, dan kebangsaan Indonesia. Kedua, Kepemimpinan HB X yang telah mampu menjembatani berbagai kelompok yang berpotensi dalam situasi kritis. “Dan ketiga, praktek pengelolaan komunitas yang memberi ruang pada kelompok yang terpinggirkan,” kata Suryo kepada wartawan, Selasa (13/12).
Dia menambahkan, pertimbangan lainnya adalah Sultan dianggap mampu merajut ke-Indonesia-an di Yogyakarta melalui kebudayaan. Selain itu, Sultan juga dinilai berhasil dalam pengelolaan lingkungan berbasis budaya, dan menginisiasi restorasi Indonesia dalam berbagai bidang yang berbasis kebudayaan. “Termasuk dukungan beliau pada pendidikan di UGM dan PTS. Juga ketokohan beliau dalam merajut kerjasama internasional dan keteladan yang besar dalam pengelolaan konflik,” katanya.
Bertindak sebagai promotor pemberian gelar HC kepada Sri Sultan adalah Rektor UGM, Prof. Ir. Sudjarwadi, M.Eng., Ph.D. Adapun Ko-promotor Prof. Dr. dr. Sutaryo, Sp.A(K)., dan Prof. Dr. Djoko Suryo.
Sekretaris Eksekutif (SE) UGM Drs. Djoko Moerdiyanto, M.A., menuturkan, di samping penyerahan gelar doktor HC, pada Upacara Dies Natalis UGM tersebut juga akan diserahkan Anugerah HB IX yang tahun ini jatuh kepada budayawan Goenawan Mohamad. “Beliau mendapat anugerah ini setelah diseleksi cukup ketat,” katanya.
Pemilihan GM, panggilan untuk Goenawan Mohamad, hasil usulan masyarakat yang diseleksi oleh Majelis Guru Besar (MGB) UGM. HB IX Award tidak mesti diberikan tiap tahun, namun berdasarkan hasil pertimbangan dan penilaian MGB atas usulan nama yang sudah dinominasikan. “Biasanya, usulan ke MGB lebih dari satu nama. Semua digodok di MGB. Tentunya mas GM sudah memenuhi kriteria yang sudah diinginkan oleh UGM,” imbuhnya.
Meski tidak menyebutkan berapa nama yang dinominasikan untuk mendapat anugerah tersebut, Djoko hanya menjelaskan bahwa GM mendapat penilaian skor tertinggi yakni 384,17. “Sebagai sastrawan dan jurnalis, GM tidak diragukan integritasnya sebagai jurnalis yang independen,” katanya. Dikatakan Djoko, setelah menerima award, malamnya GM akan membacakan orasi budaya yang berlangsung di Keraton Yogyakarta.
Suryo menyebutkan, Sri Sultan HB X merupakan tokoh ke-21 yang menerima gelar doktor HC dari UGM. Sebelumnya gelar serupa diberikan pertama kali kepada presiden Soekarno tahun 1951; selanjutnya Mohamad Hatta, Raja Thailand Bhumibol Adulyedey, Kepala Negara Kamboja Norodhom Sihanoek, Sultan Brunei Hasanal Bolkiah dan penyair WS Rendra. Sementara untuk Anugerah HB IX, Goenawan Mohamad merupakan orang ke-20 yang pernah menerima anugerah bergengsi ini. (Humas UGM/Gusti Grehenson)
(Source)